Monday, April 19

Eid Shumo Mubarak






Bersempena dengan ulang tahun kelahiran Puteri Suci Adinda Hasanain Alaihimussalam, Serikadi Karbala Sayyidah Zainab Alaihassalam. Selamat Hari Raya bagi pecinta Ahlul Bait Alaihimussalam. Semoga dpermudahkan semua urusan kita dan yang paling penting semoga ALLAH mempercepatkan kezuhuran Imam Zaman Alaihissalam. Selawat!!!

Saturday, March 20

Khulafa' yang Empat

Menurut ahl-Sunnah mereka adalah Khalifah yang empat yang berkedudukan sebagai Khalifah sesudah wafatnya Rasulullah SAW. Ahl -sunnah wal-Jamaah’ menganggap utamanya para Khalifah ini atas semua manusia yang lainnya kecuali Rasululloh SAW, masih sangat diragukan pada masa Pemerintahan Bani Umayah nama Imam Ali KW tidak disebut atau disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

Menurut sejarah tercatat bahwa Imam Ali ibn Abi Thalib KW baru dtambahkan setelah Imam Ahmad ibn Hambal menambahkannya sebagai Khalifah dan sekaligus sebagai salah satu dari Khulafaur Rasyidun dan sebelum itu beliau pernah dikutuk dari atas mimbar-mimbar dalam semua tanah daulah Islam dan disepanjang Pemerintahan Dinasti Umayyah. Supaya dapat lebih jelas lagi dalam memahami perkara ini, dan supaya kita akan merasa lebih tenteram dengan fakta yang menyedihkan ini, kita akan coba tinjau salah satu contoh dari seorang sahabat sekaligus Putra dari Umar bin Khattab.



Abdullah ibn Umar ini telah dianggap oleh ‘ahl-sunnah wal-jamaah’ sebagai seorang ahli fiqh yang terkemuka, bahkan Imam Malik menjadikannya sebagai sandaran utama yang dia bergantung kepadanya didalam bukunya Al-Muwatta. Dia [Abdullah ibn Umar ] juga menjadi sumber bagi al-Bukhari dan Muslim didalam penulisan sahih mereka masing-masing. Kesemua penyampai hadits yang lain juga tanpa sebarang pengecualian bergantung kepadanya.

Abdullah ibn Umar amat terkenal dan secara terbuka memperlihatkan kebenciannya terhadap Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib AS. Sejarah menyampaikan kepada kita bahwa dia tidak memberikan sumpah setia kepada Imam Ali KW, tapi dia dengan serta merta memberikan sumpah setianya kepada orang yang terkutuk al-Hajjaj, jelas-jelas al-Hajaj itu musuh Allah dan Rasul-Nya. [1]

Abdullah ibn Umar telah mengatakan yang berikut ketika mencoba untuk menerangkan hadits dari baginda Rasul SAW ketika bersabda : ‘Para Khalifah sesudahku adalah dua belas; mereka semua dari Quraysh’: Dia berkata umat ini akan mempunyai dua belas Khalifah mereka adalah: Abu Bakr al-Siddiq, Umar al-Farooq, Utsman Dzull Noorain, Muawiyah dan anak-anaknya sebagai raja bagi tanah suci [Mekah dan Madina], al-Saffah, Salam, Mansour, Jabir, al-Mahdi, al-Ameen, Ameer al-Asab, mereka adalah dari Banu Ka’b ibn Luayy, dan mereka adalah yang benar dan terkemuka. [2]

Maka bacalah lagi fakta ini, dan bayangkan ahli fiqh yang pemahaman seperti itu, yang sangat dihormati oleh ‘ahl-sunnah wal-jamaah’ dan lihatlah bagaimana dia telah manjadikan Muawiyah dan anaknya Yazid dan begitu juga al-Saffah [panggilan yang bermakna penumpah darah] menjadi hamba-hamba Allah yang terbaik, dan dengan menambahkannya sebagai terulung! Sesungguhnya dengki dan kejahilan telah membutakan pandangannya sebagaimana iri hati dan permusuhan telah membutakan mata hatinya [3] sehingga ketahap bahwa dia tidak dapat melihat satupun kemuliaan dan kebaikkan pada Amirul Mukminin Ali KW , dan malah lebih mengutamakan Muawiyah, seorang yang tidak bermoral, dan anaknya yang tiada beragama, penjahat dan orang yang haus darah, Yazid bin Muawiyah.

Dan kini kita lihat anak Umar ibn al-Khattab [Abdullah ibn Umar] dengan dengki dan bencinya, walaupun Ali telah berkedudukan Khalifah setelah Utsman dibunuh dan sesudah menerima sumpah setia dari Muhajirun dan Ansar, tapi Abdullah bin Umar tetap enggan untuk memberi bai’at kepada Imam Ali KW dan malah mencoba sekuat tenaga membangkitkan semangat masyarakat untuk menentang beliau dan berkehendak untuk dapat menjatuhkan Beliau AS.

Abdullah ibn Umar berkhidmat kepada dinasti Umayyah dan memahkotakan keduanya (Muawiyah dan anaknya Yazid) dengan mahkota Khalifah, membuat dusta dan perubahan terhadap sunnah Rasul, mengiktiraf Khalifah al-Saffah dan al-Mansour dan kesemuanya pemerintah dari Bani Umaiyyah, mengutamakan mereka diatas Pemimpin bagi umat Muslim dan wali bagi mereka yang beriman menurut teks Quran yang suci dan juga Sunnah Rasululloh SAW.

Jadi Khulafaur Rashidun yang 4 itu dipopulerkan dizaman Imam Ahmad bin Hambal, jelas-jelas buatan manusia dan pada awalnya Imam Ali KW tidak termasuk didalamnya, semacam inillah pahaman yang menjadi pegangan Ahl-Sunnah wal Jama’ah, untuk menentukan siapa Khulafaur Rasyidin harus menunggu Ratusan Tahun, Tidakah mereka membaca al-Qur’an sehingga mereka tidak mampu melihat siapa saja Khulafaur Rasyidin menurut frame yang ditentukan oleh al-Qur’an .

Atau apakah kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada kebenaran ?


1. Al-Hajjaj ibn yusuf al-Tsaqafi adalah seorang yang sangat terkenal dengan kecabulannya, fasik, jenayah dan tidak beriman. Al-Hakim telah mencatat dalam Al-Mustradak hal 556, jilid 3, dan Ibn Asakir telah juga mencatatnya pada halaman 69 jilid 4 dari bukunya, bahwa sebenarnya al-Hajjaj pernah berkata: ‘Ibn Mas’ud mengaku bahwa dia membaca Qur’an yang diwahyukan oleh Allah, dan Allah tidak lebih dari kotoran bagi Arab.’ Dia juga pernah mengatakan: ‘Takutlah kepada Allah sebanyak mana yang kamu mahu, karena dengan melakukannya adalah sia-sia, dan dengarlah serta taatlah kepada Amirul Mukminin Abd al-Malik ibn Marwan karena kamu akan mendapat ganjaran yang berlimpah ruah.’ Juga Ibn Aqeel mencatat pada halaman 81 dari bukunya Al-Nasaih al-Kafiya berkata bahwa al-Hajjaj berkata di Kufah ketika menanggapi mereka yang menziarahi Pusara Rasul di Madina dengan berkata: ‘Semoga mereka binasa! Mereka berkeliling pada kayu dan jasad yang hancur; mengapa mereka tidak berkeliling pada istana Amirul Mukminin Abd al-Malik? Tidakkah mereka ketahui bahwa pengganti seseorang adalah lebih baik dari pengkhabarannya?’

2. Ini telah dinyatakan pada oleh al-Suyuti Tarikh al-Khulafa, halaman 140 Kanzul-Umal jilid 6 hal 67, dan juga didalam buku sejarah Ibn Asakir dan adz-Dhahabi.

3. Bacalah dan jangan lupakan pernyataan Baginda Rasul dalam al-Bukhari wa Muslim yang berbunyi: ‘Mencintai Ali ibn Abu Thalib adalah pertanda iman, dan membencinya adalah pertanda munafik,’ dan para munafik semasa zaman Rasul SAW dikenali dengan kebencianya terhadap Ali [as]

Fikirkanlah wahai kaum yang berakal...(yg tiada kemampuan membaca sumber primer, sila dapatkan tunjuk ajar dari sesiapa yg tahu bukan mentaqlid buta semata-mata)

Tuesday, December 22

Balasan ke atas pembunuh Hussein AS


Ditengah kerumunan Pesta pembakaran Kemah Karbala, Umar Bin Saad (LA) berteriak dengan lantang, "Siapa yang mau menjadi sukarelawan untuk menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kaki kudanya ?"

Lalu segera sepuluh orang maju menyatakan kesediaan mereka. Mereka adalah:

1. Ishaq bin Haubah yang juga merampas baju Al-Husain.
2. Akhnas bin Mirtsad.
3. Hakim bin Thufail Al-Sabi'i
4. 'Amr bin Shabih Al-Shaidawi
5. Raja' bin Munqidz Al-'Abdi
6. Salim bin Khaitsamah Al-Ja'fi
7. Shaleh bin Wahb Al-Ja'fi
8. Wahidh bin Ghanim
9. Hani bin Tsubait Al-Hadhrami
10. Usaid bin Malik

Kesepuluh Manusia Durjana itu maju dan memijak-mijak jasad Al-Husain as. Dengan kaki kuda mereka hingga dada dan punggung Cucu Nabi Saww itu hancur.. (Ya Husseinna..…Ya Husseinna..…Ya Syahidda....)

Diselingi gelak tawa dan tanpa rasa takut mereka terus melakukan perbuatan kejinya..

Hingga ketika mereka sampai di Kuffah, kesepuluh manusia hina itu datang menghadap Ubaidillah bin Ziyad. Usaid bin Malik, salah seorang dari mereka, berkata:

"Kamilah yang menghancurkan dada dan punggungnya..Dengan kuda yang lincah dan bertali kekang kuat"

Kepada mereka Ibnu Ziyad bertanya, "Siapakah kalian?"

Dengan bangga mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kuda kami. Kami telah berhasil melumatkan punggung dan dadanya."

Ubaidillah bin Ziyad sangat puas mendengar jawapan itu. Beliau lalu memerintahkan untuk memberi mereka sedikit hadiah.

Seorang Tabi'in Abu Umar Al-Zahid berkata, "Setelah kami meneliti, ternyata kesepuluh orang tersebut adalah anak hasil zina."

Manusia-manusia hina yang telah melakukan kekejian pada cucu yang dikasih Nabi al Husein As pun di akhir hayatnya diperlakukan secara sama oleh Mukhtar yang membalas dendam kepada mereka yang terlibat dalam membunuh Hussein, sehinggalah akhirnya Mukhtar berhasil menangkap mereka semua. Setelah mengikat mereka dengan rantai besi, ia memerintahkan pasukan berkudanya untuk menginjak-injak dan melumatkan punggung mereka. Mereka semua mati dengan cara demikian.

Atha' bin Abi Rabbah, seorang tabi'in juga berkata: Aku pernah bertemu dengan seorang buta yang ikut menyaksikan pembantaian terhadap Al-Husain as. Kepadanya aku bertanya perihal penyebab kebutaannya.

Dia menjawab, "Aku menyaksikan pembantaian itu dari dekat. Bahkan aku termasuk salah satu dari kesepuluh orang tersebut. Hanya saja aku tidak ikut terlibat dalam memukul atau melempar sesuatu kepada Al-Husain. Setelah beliau terbunuh, aku pulang ke rumahku, lalu melaksanakan salat Isya' dan kemudian tidur. Tiba-tiba aku melihat ada seorang yang datang kepadaku dan mengatakan, "Jawablah pertanyaan Rasulullah !"

Kukatakan, "Ada apa sehingga aku mesti pergi menemui beliau ?"

Tanpa menjawab, ia memegangku dengan kuat dan menyeretku. Aku melihat Nabi saww. duduk di padang sahara. Kegelisahan tampak jelas pada raut wajahnya. Beliau bertopang dagu pada kedua tangannya. Sebuah senjata kecil ada di tangan beliau. Di sebelah Rasulullah saww., kulihat ada seorang malaikat yang berdiri tegak dengan menghunus pedang yang terbuat dari api. Sembilan orang temanku telah lebih dahulu tewas di tangannya. Setiap ia memukulkan pedangnya, api segera tersembur darinya dan memanggang tubuh mereka.

Aku mendekat ke tempat beliau berada dan bersimpuh di hadapannya. Aku sapa beliau, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah." Tak kudengar jawaban beliau. Lama beliau berdiam diri. Kemudian sambil mengangkat wajahnya, beliau bersabda, "Hai musuh Allah, kau telah menginjak-injak kehormatanku, membantai keluargaku dan tidak mengindahkan hakku sama sekali. Bukankah demikian ?"

Jawabku, "Ya Rasulullah, demi Allah, aku tidak ikut andil dalam memukulkan pedang, menusukkan tombak atau melemparkan anak panah sama sekali."

"Benar," jawab beliau. "Tapi bukankah kau telah ikut dalam menambah jumlah mereka ? Mendekatlah kemari !"

Aku mendekat. Beliau menunjukkan kepadaku sebuah bejana yang dipenuhi darah seraya bersabda, "Ini adalah darah cucu kesayanganku Al-Husain."

Lalu beliau memoles mataku dengan darah itu. Ketika terjaga dari tidurku, mataku menjadi buta sampai sekarang."

Balasan Akhirat Lebih Pedih..!!


Diriwayatkan dari Imam Ja'far As Shadiq as dari Ayahnya dari kakek kakeknya yang suci dari Baginda Rasulillah Saww yang bersabda :

"Di hari kiamat kelak, Allah akan membangunkan sebuah kubah yang terbuat dari cahaya untuk Fatimah. Lalu Al-Husain akan datang dengan kepala di tangannya. Saat menyaksikan hal itu, Fatimah menjerit histeris hingga tak ada satupun malaikat maupun nabi kecuali ikut larut dalam tangisan menyertainya. Maka Allah menampakkannya di depan Fatimah dalam sebaik-baik rupa. Kemudian Al-Husain as. menyerang para pembunuhnya tanpa kepala. Setelah itu Allah menghadapkan kepadaku semua orang yang ikut andil dalam membantai dan mencincangnya untuk kubunuh semuanya. Lalu mereka dihidupkan kembali untuk dibunuh oleh Amirul Mukminin Ali. Setelah itu mereka dibangkitkan lagi. Kini giliran Al-Hasan membantai mereka. Mereka hidup lagi. Al-Husain membunuh mereka semua. Kemudian mereka dihidupkan lagi. Lalu satu persatu keturunanku membunuh mereka semua. Saat itulah, kemarahan dan dendam yang lama terpendam tersalurkan dan semua derita dapat dilupakan."

Kemudian Imam Ja'far Shadiq as. berkata, "Semoga Allah merahmati syiah kita. Demi Allah, mereka adalah orang-orang Mukmin sejati. Mereka ikut menyertai kita dalam musibah dengan kesedihan dan derita mereka yang berkepanjangan."

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Di hari kimat kelak, Fatimah datang diiringi oleh sekelompok wanita. Terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk surga. Ia menolak dan berkata, "Aku tidak akan masuk sebelum tahu apa yang diperbuat umat terhadap anakku."

Terdengar suara, "Lihatlah ke tengah-tenah padang Mahsyar !" Fatimah as. melihat Al-Husain as. berdiri tegak tanpa kepala. Ia menjerit histeris menyaksikan keadaan anaknya. Akupun ikut menjerit mendengar jeritannya. Demikian juga para malaikat."

Dalam riwayat lain disebutkan: Fatimah meratap dan mengatakan, "Oh anakku! Oh buah hatiku!" Beliau meneruskan, Saat itulah Allah murka karena kemarahan Fatimah, lalu memerintahkan agar mereka semua dimasukkan ke dalam neraka yang disebut Habhab yang telah dinyalakan seribu tahun lamanya hingga berwarna hitam. Tak ada jalan bagi kesenangan untuk masuk ke dalamnya dan tak ada jalan bagi kesusahan untuk keluar darinya. Datang perintah dari Tuhan kepadanya, "Santaplah para pembunuh Al-Husain!" Neraka itupun segera melahap habis mereka. Setelah mereka berada di dalamnya, ia menggelegar diiringi oleh teriakan dan jeritan mereka.

Mereka lantas berseru, "Tuhan, mengapa Engkau menyiksa kami sebelum para penyembah berhala ?"

Datang jawaban dari Allah yang mengatakan, "Orang yang tahu tidak seperti orang yang tidak mengetahui."

Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Syaikh Ibnu Babuwaih dalam kitab 'Iqabu Al-A'mal